Trafficking "Perdagangan Wanita" di Jombang, Jawa Timur

Trafficking "Perdagangan Wanita" di Jombang, Jawa Timur. Kasus perdagangan manusia (trafficking) di Jombang, Jawa Timur, sedang marak. Ironisnya, yang menjadi sasaran penjualan perempuan untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK) ini adalah gadis-gadis yang usianya masih belasan tahun.

Trafficking Perdagangan Wanita di Jombang, Jawa Timur

Dari data yang dimiliki Women Crisis Center (WCC) Jombang, tercatat ada tujuh laporan orang hilang. Semuanya rata-rata masih berumur belasan tahun dan masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dari tujuh kasus yang dilaporkan itu, empat korban dinyatakan masih belum ditemukan jejaknya.

"Semua korban masih berusia belasan tahun," ungkap Koordinator Divisi Pelayanan dan Pendampingan WCC Jombang, Sholahuddin, Sabtu (9/10/2010).

Beberapa laporan gadis hilang yang korbannya masih belum ditemukan di antaranya Mashita Andarini (16), warga Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, yang tercatat masih duduk di kelas II SMA Negeri Bareng.

Sejak dilaporkan hilang pada 27 Juli lalu, gadis ini belum ditemukan jejaknya. "Informasi orang tuanya, korban habis berkenalan dengan seorang pria melalui media jejaring sosial," kata Udin, sapaan akrab Sholahuddin.

Korban kedua adalah Miftakhul Arifah (14), warga Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng. Korban tercatat sebagai siswi MTSN Bareng dan dilaporkan hilang sejak 1 Oktober lalu dan hingga kini pihak keluarga belum bisa melakukan kontak menyusul nomor telepon selulernya yang tak bisa dihubungi.

Modusnya hampir sama. Sebelum menghilang, korban bertemu dengan seorang laki-laki dan ditawari pekerjaan. "Terakhir kali korban dijumpai warga sedang bersama laki-laki tak dikenal di Pasar Kecamatan Ngoro," paparnya.

Sementara korban ketiga diketahui bernama Juni Palupi (15), warga Desa Pekunden, Kecamatan Mojoagung. Korban dilaporkan hilang sejak enam bulan lalu. Lagi-lagi, hilangnya korban itu setelah dia berkenalan dengan laki-laki tak dikenal.
Dan terakhir, kemarin, seorang gadis belia asal Mojoagung yang masih berusia 15 tahun. "Untuk korban, hari ini kami masih menggali informasi mengenai kronologis dan latar belakangnya," tandasnya.

Dari rentetan kasus yang berhasil dia rekam, diduga para pelaku trafficking dengan sasaran gadis berusia belasan ini masih dalam satu jaringan. Dugaan itu muncul karena kronologi yang hampir sama. Dan juga melihat sasaran korban yang kesemuanya masih belia.

"Dan sudah diketahui dari salah satu korban yang sudah ditemukan, dia memang diperjualbelikan. Salah satunya dijual di lokalisasi di Nganjuk," tukasnya.

Dia memaparkan, usia belasan tahun memang menjadi incaran para pelaku trafficking. Karena di usia ini, kata dia, sangat mudah untuk dijual dan dipekerjakan sebagai pemuas nafsu. Dan lagi pula, usia belia sangat mendukung pola pikir korban yang cenderung pragmatis.

"Maraknya praktik seperti ini biasanya terjadi seperti menjelang Lebaran lalu. Di mana banyak permintaan pembantu rumah tangga dan juga dipekerjakan di cafe-cafe yang menyediakan fasilitas mesum," tambahnya.

Selama ini, tegas Udin, polisi dinilai kurang proaktif dalam menyikapi maraknya perdagangan gadis belia. Seharusnya kata dia, dari rentetan kasus, polisi bisa menyimpulkan motif dan juga jaringan di balik kasus ini. Selama ini, polisi dinilai masih menganggap enteng laporan masyarakat.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jombang Ipda Rizki Amalia membantah tudingan jika pihaknya kurang proaktif dalam menangani masalah ini. Menurutnya, selama ini keluarga korban masih menganggap kasus seperti ini sebagai hal yang tabu dan memalukan. Sehingga, pihaknya kesulitan untuk menindaklanjuti.

"Belum-belum sudah under estimate. Jadi kami kesulitan," kata Rizki saat dihubungi.

Ditambah lagi kata Rizki, kebanyakan kasus trafficking di Jombang melibatkan penyalur tenaga kerja di luar kota. Sehingga pihaknya memiliki keterbatasan dalam menindaklanjutinya. Dia juga mengakui adanya kelemahan dalam hal koordinasi dengan lembaga lain yaang berhubungan dengan masalah ini, terutama WCC.

Meski mengakui kasus trafficking di Jombang terbilang tinggi, namun saat ditanya fenoema kasus perdagangan gadis belia di wilayahnya, Rizki mengaku masih belum mengetahuinya. Dia beralasan banyak kasus ini yang tak masuk ke polisi.

"Nanti kita akan koordinasi dengan WCC. Untuk yang ini kami belum punya datanya," aku Rizki. Okezone.com